Hari ini saya belum menulis. Artinya, utang belum dibayar. Ya, saya sudah berjanji untuk menulis, sebisa-bisanya dalam kondisi apa pun. Betapapun tidak bermutu gagasan yang ada saat itu. Meskipun pendek dan tidak istimewa. Apa pun yang aku tulis pastilah itu lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Menulis mesti kujadikan modus eksistensial, caraku mengada dan memaknai hidup. Lebih dari yang lain, menulis jelas punya banyak keunggulan. Dengan menulis, aku bisa mengetahui detail perjalanan hidupku. Kegagalan dan keberhasilanku. Harapan dan impianku. Evolusi pemikiranku. Mengevalusi rencana dan agenda hidup. Pendeknya, apa saja. Aku bisa menjangkau masa depan dengan membuat rencana. Aku bisa pergi ke masa lalu dengan menuliskan kenangan. Aku bisa bertegak di masa kini dengan meluberkan perasaan dan pikiranku saat ini. Yang istimewa, setiap kali aku membaca kembali tulisanku yang terdahulu, selalu ada ketakjuban, eh ternyata aku pernah menulis seperti itu. Ada bagian dari diriku yang terasa lepas dan berdiri di sana sebagai entitas tersendiri. Aku mengamati serpihan-serpihan diri. Mosaik-mosaik kebaiqunian. Secara pragmatis, tulisan itu juga bisa menjadi alat untuk menilai diri sendiri. Mengambil ancang-ancang untuk berbuat dan bertindak. Untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Sungguh, orang yang rajin menulis catatan pribadi sebetulnya menunjukkan dengan sangat jelas, betapa seriusnya ia menanggapi hidup. Apa pun bentuknya, diari adalah wujud dari keseriusan melakoni hidup. Bagi anak-anak dan cucu-cucuku kelak, tulisan-tulisanku sudah pasti akan menjadi warisan yang unik. Mereka akan mengetahui ayah dan kakek mereka melalui tulisan! Bukan hanya melalui foto seperti lazimnya orang dikenangi. Ahmad Wahib serasa masih hidup di tengah-tengah kita karena dia meninggalkan tulisan pribadi yang mengesankan. Dia terus dikenang dan dicatat, dalam sejarah. Betapa penting dan berarti menulis diari—sebenarnya menulis apa saja. Dan seperti halnya olah raga, menulis adalah aktivitas yang harus dilakukan terus-menerus. Kalau tidak, otot menulis kita akan mengendur, lemah, dan mungkin menyusut. Keterampilan menulis juga akan merosot kalau tidak dilatih. Ia akan meredup kalau tidak digosok terus-menerus. Ia jadi semakin tajam kalau diasah tanpa henti. Menulis memang masih jadi momok bagi banyak orang. Seakan-akan menulis itu harus serius dan rumit. Padahal menulis bisa dilakukan sealamiah orang makan dan minum. Kalau tidak makan-minum, orang merasa haus dan lapar. Kalau tidak menulis, orang juga lapar dan haus ruhani dan pikirannya. Pikiran butuh makanan berupa ide-ide. Dan latihan terbaik untuk mengelola ide adalah dengan menulis. Barangkali tidak ada cara lain yang lebih baik daripada menulis dalam hal ini. Orang-orang kita memang tidak suka menulis dan tidak pernah disadarkan betapa pentingnya menulis. Dikira menulis itu sebatas menulis surat izin ketiaka tidak masuk kantor. Menulis perjanjian ketika berbisnis. Padahal, menulis itu ya bisa tentang apa saja. Dengan menulis, kita mengikat sesuatu, yang tanpanya ia akan lepas dan terbang ke negeri antah berantah. Menulis adalah juga upaya menaklukkan terra incognita, negeri yang tak terjamah. Dengan menulis, yang tersirat akan disuratkan; yang terbayangkan akan menemukan bentuknya; imajinasi yang liar menemukan wadahnya; pikiran yang rumit menemukan cara penataannya; jiwa yang gelisah menemukan media ekspresinya….ya, siapa pun aku dan mau jadi apa pun aku, aku akan terus menulis.