menulis = kewajiban harian

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

Hari ini saya belum menulis. Artinya, utang belum dibayar. Ya, saya sudah berjanji untuk menulis, sebisa-bisanya dalam kondisi apa pun. Betapapun tidak bermutu gagasan yang ada saat itu. Meskipun pendek dan tidak istimewa. Apa pun yang aku tulis pastilah itu lebih baik daripada tidak menulis sama sekali. Menulis mesti kujadikan modus eksistensial, caraku mengada dan memaknai hidup. Lebih dari yang lain, menulis jelas punya banyak keunggulan. Dengan menulis, aku bisa mengetahui detail perjalanan hidupku. Kegagalan dan keberhasilanku. Harapan dan impianku. Evolusi pemikiranku. Mengevalusi rencana dan agenda hidup. Pendeknya, apa saja. Aku bisa menjangkau masa depan dengan membuat rencana. Aku bisa pergi ke masa lalu dengan menuliskan kenangan. Aku bisa bertegak di masa kini dengan meluberkan perasaan dan pikiranku saat ini. Yang istimewa, setiap kali aku membaca kembali tulisanku yang terdahulu, selalu ada ketakjuban, eh ternyata aku pernah menulis seperti itu. Ada bagian dari diriku yang terasa lepas dan berdiri di sana sebagai entitas tersendiri. Aku mengamati serpihan-serpihan diri. Mosaik-mosaik kebaiqunian. Secara pragmatis, tulisan itu juga bisa menjadi alat untuk menilai diri sendiri. Mengambil ancang-ancang untuk berbuat dan bertindak. Untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Sungguh, orang yang rajin menulis catatan pribadi sebetulnya menunjukkan dengan sangat jelas, betapa seriusnya ia menanggapi hidup. Apa pun bentuknya, diari adalah wujud dari keseriusan melakoni hidup. Bagi anak-anak dan cucu-cucuku kelak, tulisan-tulisanku sudah pasti akan menjadi warisan yang unik. Mereka akan mengetahui ayah dan kakek mereka melalui tulisan! Bukan hanya melalui foto seperti lazimnya orang dikenangi. Ahmad Wahib serasa masih hidup di tengah-tengah kita karena dia meninggalkan tulisan pribadi yang mengesankan. Dia terus dikenang dan dicatat, dalam sejarah. Betapa penting dan berarti menulis diari—sebenarnya menulis apa saja. Dan seperti halnya olah raga, menulis adalah aktivitas yang harus dilakukan terus-menerus. Kalau tidak, otot menulis kita akan mengendur, lemah, dan mungkin menyusut. Keterampilan menulis juga akan merosot kalau tidak dilatih. Ia akan meredup kalau tidak digosok terus-menerus. Ia jadi semakin tajam kalau diasah tanpa henti. Menulis memang masih jadi momok bagi banyak orang. Seakan-akan menulis itu harus serius dan rumit. Padahal menulis bisa dilakukan sealamiah orang makan dan minum. Kalau tidak makan-minum, orang merasa haus dan lapar. Kalau tidak menulis, orang juga lapar dan haus ruhani dan pikirannya. Pikiran butuh makanan berupa ide-ide. Dan latihan terbaik untuk mengelola ide adalah dengan menulis. Barangkali tidak ada cara lain yang lebih baik daripada menulis dalam hal ini. Orang-orang kita memang tidak suka menulis dan tidak pernah disadarkan betapa pentingnya menulis. Dikira menulis itu sebatas menulis surat izin ketiaka tidak masuk kantor. Menulis perjanjian ketika berbisnis. Padahal, menulis itu ya bisa tentang apa saja. Dengan menulis, kita mengikat sesuatu, yang tanpanya ia akan lepas dan terbang ke negeri antah berantah. Menulis adalah juga upaya menaklukkan terra incognita, negeri yang tak terjamah. Dengan menulis, yang tersirat akan disuratkan; yang terbayangkan akan menemukan bentuknya; imajinasi yang liar menemukan wadahnya; pikiran yang rumit menemukan cara penataannya; jiwa yang gelisah menemukan media ekspresinya….ya, siapa pun aku dan mau jadi apa pun aku, aku akan terus menulis.

cinta dunia

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

Ada gejala-gejala buruk yang harus diwaspadai dengan sangat serius padaku. Aku, dalam beberapa tahun terakhir, selalu shalat isya pada akhir waktu, menjelang subuh. Bukan karena sengaja mengakhirkan karena keutamaannya, tetapi karena kelalaianku. Aku selalu saja tertidur sebelum shalat isya, lalu bangun sekitar jam 3 atau 4. Itu terus berulang, dalam waktu yang panjang. Pasti ada tidak beres dengan diriku. Dengan orientasi hidupku. Memang belakangan ini aku sangat terobsesi dengan rumah dan mobil. Aku sangat ingin menata rumahku dengan lebih indah dan lebih nyaman. Teras samping ingin sekali rasanya dibangun. Mobil kuno yang bermasalah ingin sekali segera diganti. Belum lagi obsesiku untuk memiliki perabot yang artistik. Sofa yang lembut dan nyaman untuk bersantai menonton televisi dan menerima tamu. Rak buku yang besar dan artistik tempat menaruh buku-buku. Lemari baju yang didesain khusus untuk menaruh pelbagai jenis baju. Belum lagi keinginanku punya kamera digital dan komputer generasi mutakhir. Ya Allah, aku telah terobsesi dengan benda-benda, dengan dunia, dengan yang-fana. Keinginan itu sudah menjadi obsesi yang mengaliri darah dan menggerakkan syaraf-syarafku. Ia sudah menjadi lapisan bawah sadarku dalam memandang seluruh kenyataan. Aku jadi tidak peka dengan karunia Allah, dan lebih sensitif dengan kebutuhan diriku sendiri. Aku jadi tidak peka dengan penderitaan orang lain. Semuanya berakar pada cinta dunia. Benar ungkapan yang mengatakan akar dari seluruh kejahatan adalah cinta dunia.

Aku harus mengubah orientasi hidupku. Aku harus merasa cukup dengan apa yang ada sekarang! Alhamdulillah ala kulli hal.

Menatap El-Maut di Sabra Satila: Dr Swee

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

Dr Swee: Menatap Al-Maut di Sabra-Shatila

Ketika Israel menyerang Lebanon pada Juni 1982, kau terhenyak: bagaimana mungkin Israel, yang kau anggap bangsa pilihan Tuhan, tega-teganya menghujani-bom Beirut dengan sasaran tanpa tanpa pandang—anak-anak, orangtua, sekolah, rumah sakit, tempat tinggal, jembatan, apa saja. Dan bagaimana mungkin orang-orang Palestina, yang kau anggap sebagai teroris, justru di pihak korban yang tak berdaya dan ternista? Kau pun bertanya, atau tepatnya, menggugat Tuhan. Dan Tuhan menanggapinya: kau mendengar pengumuman bahwa ahli bedah ortopedis sepertimu sangat dibutuhkan di Lebanon untuk menolong para korban.

Lalu, kau tinggalkan rumah sakit di Inggris, tempat bekerjamu yang nyaman dan mapan; juga kau tinggalkan suamimu; menuju sebuah negeri yang tak pernah kau kenal. Kau merasa Tuhan ingin menunjukkan apa yang sesungguhnya terjadi di sana, di Beirut, tempat yang selamanya terasa asing bagimu ketimbang Israel, negeri yang dijanjikan Tuhan bagi orang-orang Yahudi. Dan benar, di Beirut kau lihat dengan mata kepalamu sendiri: bangunan-bangunan yang rontok, tubuh-tubuh yang hancur, jasad-jasad yang kesakitan, dan hati-hati manusia yang nelangsa. Berbaliklah sudah bayanganmu tentang Israel sang David dan Palestina sang Goliat. Kau pun makin yakin telah mengambil keputusan yang benar: membantu sang korban, orang-orang Palestina.

Kau ditempatkan di RS Gaza, di sekitar Sabra-Shatila. Situasi berangsur-angsur membaik, kehidupan menggeliat kembali di sana. Rumah sakit, tempat-tempat tinggal, dan sekolah-sekolah dicoba dibangun kembali dari reruntuhan dan puing-puing. Kau lihat bagaimana orang-orang Palestina mencoba bangkit, menolak menyerah pada keadaan dan nasib.

Tapi, sebulan kemudian, kau justru melihat kebiadaban yang lebih dahsyat: orang-orang Palestina di bantai di kamp Sabra-shatila, di sekitar rumah sakit tempatmu bertugas. Mula-mula kau dengar suara-suara bising, tembakan-tembakan, bom-bom, dan teriakan-teriakan di sekitarmu. Lalu keesokan harinya, kau melihat pemandangan itu: anak-anak dibantai, perempuan-perempuan diperkosa sebelum dibunuh, dan orang-orangtua dihabisi. Tubuh-tubuh mereka berserakan di mana-mana, ribuan jumlahnya. Kau hampir tak percaya pada apa yang kau lihat. Kau menangis. Hatimu serasa mati. Kau merasa ditinggalkan Tuhan dan manusia. Dunia tak lagi mengenal belas kasih. Segalanya telah berakhir, katamu dengan putus asa. Tak ada lagi yang berharga.

Tapi, ternyata, kau masih menemukan sesuatu yang berharga: anak-anak yang selamat dari pembantaian. Mereka kehilangan orangtua dan sanak saudara, tetapi mereka senang begitu tahu kau masih hidup. Mereka mencintaimu. Mereka mengacungkan “V”, seperti hendak mengajarimu apa arti keberanian dan perjuangan. Kau lalu menjadi yakin, bangsa Palestina masih akan terus ada selama ada anak-anak Palestina.

Lalu, malamnya, kau tulis sebuah surat untuk suamimu di London

Sayang,

Aku didera kelelahan fisik yang luar biasa, tapi aku tidak takut. Sejarah telah mengajari kita. Pernah terpikir oleh budak-budak di masa lalu bahwa suatu hari mereka akan bebas dan dipandang sebagai manusia? Namun, inilah kesaksian kami: sejarah akan terus berulang dan kami akan menang. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok. Mungkin bukan generasi sekarang, bahkan mungkin bukan generasi berikutnya. Namun, karena kami manusia, suatu hari kami pasti akan menang. Ya, ini memang membutuhkan kegigihan, disiplin, pengorbanan, dan harga yang sangat mahal. Tapi, sesuatu yang merupakan hak kita pastilah suatu hari akan di tangan kita kembali.

Sayangku, kita hanyalah dua individu kecil dalam gelombang sejarah pembebasan ini. Mungkin di suatu tempat kita akan terhanyut, tersisih ke tepian, tetapi kita tahu ke mana gelombang itu akan mengalir, dan tiada yang dapat menuliskannya. Mungkin kedengarannya muluk-muluk, tetapi di segenap sejarah orang-orang yang memperjuangkan keadilan, tidak ada yang terdengar utopia.

Aku menangis bagai seorang prajurit muda, yang bersiap tempur di medan perang, tetapi tumbang bahkan sebelum pertempuran dimulai. Tapi, aku tertawa, tertawa penuh kemenangan, karena aku tahu masih ada jutaan orang lain yang akan melanjutkan perjuangan ini sesudahku.

Aku sudah menatap wajah sang maut dan telah kusaksikan kekuatan dan kengeriannya. Tapi, aku juga sudah menatap matanya dan melihat ketakutannya. Anak-anak kami akan datang karenanya dan mereka tidak mengenal takut.

Tapi, di situs pembantaian itu, kau tak hanya melihat sosok iblis. Kau jumpai “malaikat-malaikat” perempuan bernama Laila, Hadla, Azizah, Ummu Walid.

munajat

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

Ada penyakit berat di dalam batinku. Tak ada sesuatu yang benar-benar membangkitkan semangatku. Semua berjalan sebagai rutin, dari hari ke hari. Seperti sekadar menghabiskan waktu sembari mengharapkan datangnya sesuatu. Sesuatu itu mungkin sedikit berbau mukjizat. Ya, aku seperti menunggu sesuatu, yang bukan bagian dari ikhtiarku, agar ia datang kepadaku sebagai penolongku dari situasi mandek ini. Ya Tuhan, jika nabimu Zakaria meminta isyarat tentang kehamilan istrinya, maka aku pun seperti menunggu isyarat dari-Mu. Apakah ia berupa seorang mursyid, sepotong ide mencerahkan, seorang sahabat yang memahami hati dan pikiran, sebuah kegiatan yang merampas entusiasme…Allahku, berilah aku sepotong ide yang segar. Aku merasa buntu. Mentok. Rudin. Untunglah aku tidak jatuh ke dalam keputusasaan. Ya Allah, apa sih yang sesungguhnya aku cari di sini? Mengapa aku seperti ini? Apa sih yang aku benar-benar butuhkan? Ya Allah, ajari aku berdoa dengan baik. Ya Allah, aku tidak ingin berdoa sebagai sekadar ucapan lidah yang keluar tidak dari hati. Aku ingin berdoa dengan pujian-pujian yang adalah milik-Mu jua. Ya Allah, berilah aku cahaya ke dalam jiwaku yang kelam, pikiranku yang rusuh, perasaanku yang galau, langkahku yang ragu, sikapku yang gamang. Ya Allah, tegak dan berdirikan aku di atas landasan-Mu. Berilah aku hidup dari Hayat-Mu. Berilah aku kesanggupan berjalan dengan kaki-Mu, berbicara dengan lidah-Mu, berpikir dengan kecerdasan-Mu, bertindakn dengan iradah-Mu. Ya Allah, matikan aku di dalam hidup-Mu saja. Ya Allah, kondisikanlah diriku agar selalu memujimu dan senantiasa berada di dalam kebaikan dan kasih sayang-Mu.

melampaui keboyakan

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

Saya kira di dunia ini setiap jenis profesi pastilah mengandung di dalamnya unsur-unsur kerutinan, kebosanan, keberulangan—pendeknya, apa saja yang membuat kita berseru “aku nggak tahan lagi bekerja seperti ini.” sopir mengeluhkan target setoran, editor mengeluhkan target halaman, kasir mengeluhkan target pendapatan, pemilik usaha mengkhawatirkan penurunan omzet, dan seterusnya. tapi kalau orang mundur menghadapi persoalan ini, mungkin tata kehidupan yang berantakan. hingga titik tertentu, hidup kita dijalankan oleh orang-orang kuat yang berhasil mengatasi kejenuhan yang merasa rasakan. mereka memang merasakan jenuh, tetapi menolak menyerah pada kondisi ini. Mereka melampaui kejenuhan dan kebosanan itu.

Text is my life

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

Tenggelam di lautan teks

Aku tenggelam di laut teks, meminum teks hingga memenuhi perutku. Pikiranku penuh dengan teks. Aku mendengar teks tertawa. Aku mencium aroma teks. Aku meraba-raba teks. Aku berjalan dengan teks. Melihat dengan teks. Membaca dengan teks. Aku hidup dengan teks, di dalam teks, di antara teks. Aku bermimpi tentang teks. Aku berduit dengan teks. Aku berenung bersama teks. Aku memberi dengan teks. Aku berutang karena teks. Aku kaya dengan teks. Aku miskin karena teks. Aku bergulat dengan teks. Aku bertarung dengan teks. Aku bahagia bersama teks. Aku bersusah karena teks. Teks membuat aku hidup. Teks membuatku terkapar. Aku berpeluh karena teks. Aku menangis mengawani teks. Aku bersahabat dengan teks. Aku hidup-bersama teks. Aku menjadi teks. Aku adalah teks.

berapa 7 x 8?

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

suatu hari Hana, anak pertamaku yang saat itu kelas dua SD, sulit menghapalkan perkalian 8×7. Tiba-tiba terbetik ide di kepala untuk mencari hubungan antara 56 dan (7 dan 8). Dan memang kelihatan benar kalau empat angka ini berurutan. Maka kuminta dia menulis angka 5678, dengan spasi yang agak lebar. Bolehlah ditulis begini

5   6    7   8, lalu abrakadabra!

5   6 = 7 x 8

sejak itu, saya katakan pada Hana, “kamu tidak akan lupa seumur hidup” perkalian 7 dan 8. Senang sekali rasanya saya bisa menemukan trik ini, meski sangat sederhana.

kemewahan sepotong biskuit

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

Pengalaman masa kecilku berkaitan dengan kemiskinan adalah betapa sulitnya aku makan biskuit di rumah. Sebuah kaleng berisi biskuit biasanya disimpan terkunci di lemari, dan hanya dikeluarkan bilamana ada tamu. Karena itu, setiap kali tamu datang, saya berusaha mengambilnya dari toples, di hadapan tamu yang datang itu. Perbuatan itu sering membuat orangtuaku malu dan juga kesal sebab dianggap tidak sopan. Kenyataanya, aku memang ingin sekali makan biskuit, tetapi kesempatan itu hanya muncul ketika ada tamu. Pengalaman kemiskinan itu mungkin berdampak padaku sekarang. Aku senang bisa beli biskuit dan roti, sesuatu yang dulu hanya bisa kunikmati dengan “mencurinya” dari toples suguhan untuk para tamu

Aku menulis, maka Aku ada

Mei 22, 2008 oleh abaiquni


Newton menulis untuk menghitung, menulis untuk berpikir, menulis untuk merenung, menulis untuk bermimpi, menulis untuk berangan-angan, menulis untuk melamun. Ya, newton menulis dan terus menulis hingga menjadi buku yang menjadi salah satu kitab semesta. Hukum newton orang menyebutnya, dan dari sana orang bisa merekonstruksi alam, membangun pencakar langit, merancang pesawat ulang alik, membuat kapal selam, membikin kapal terbang. Dari seorang pelamun dan pemikir soliter, Newton, dunia menjadi terang-benderang. Meski ia sendiri seorang pengagum takhayul dan klenik. Ia suka teologi yang kabur, dan alkimia yang misterius. Baginya, imaji dan rasio berjalan bersama. Mungkin rasio yang luar biasa ini juga dimungkinkan oleh imajinya yang edan-edanan. Perempuan tak disukainya, malah dijauhinya. Hidupnya dipersembahkan untuk mencari, mengetahui, menjelajah, menggali-gali yang tersembunyi. Newton mewakili spirit manusia yang terus mencari, hingga ketemu sesuatu yang berarti. Hidupnya memang sendirian, tapi karyanya menjadi panutan umat manusia. Bukunya hampir seperti kitab suci bagi pencarian hakikat alam semesta. Ia mirip seorang nabi di dunia sains, hampir-hampir analog dengan nabi di dunia keagamaan. Tuhan telah memilihnya menjadi nabi peradaban. Ia masih percaya tuhan, juga hal-hal berbau takhayul dan bidah. Agamanya tak jelas, tapi ia mungkin orang religius. Kepribadiannya berlipat-lipat, kompleks, beraneka wajah. Ia penyendiri dan menghindari pertemanan, apalagi perempuan. Dunia barangkali tak menarik baginya. Ia tak suka jalan-jalan. Ruang geraknya terbatas sekali, tapi pemikirannya melesat ke galaksi-galaksi yang jauh sekali. Menulislah, karena itu, untuk apa pun yang kaubutuhkan. Termasuk untuk menulis kesemrawutan pikiran dan perasaanmu. Aku menulis karena aku ada. Atau aku ada, karena itulah aku menulis.

Menulis = kegiatan eksistensial

Mei 22, 2008 oleh abaiquni

Dalam suatu ungkapan pendek, menulis -- sebenarnya juga membaca – pada puncaknya adalah sebuah kegiatan eksistensial, ketimbang sebuah
keterampilan. Itu sebabnya orang lebih bebas -- dalam hubungannya dengan kaidah-kaidah kebahasaan -- menulis esai dan puisi, seperti sempat kita singgung sebelumnya. Karena, memang, esai dan puisi jauh lebih pas untuk menulis kehidupan ketimbang tulisan ilmiah biasa. Sifat eksistensial kegiatan menulis inilah yang menyebabkan menulis juga memiliki sifat terapeutik (healing, penyembuhan).


Lagi, saya ingatkan petuah Heidegger, bahasa adalah "the loudspeaker of being." Maka, kata Heidegger, puisi pun mengada. Bahkan, bagi filosof ini,ketika filsafat berakhir, maka puisi pun mulai. Pada Heidegger, dia bukan hanya memujikan puisi di atas filsafat (analitik), melainkan menjadi antifilsafat.


Meski mungkin tak segera tampak hbungannya, inilah puisi Angelus Silesius:
The Rose is without why
It blooms because it blooms
Selanjutnya :
My heart could receive God
if only it chose
to turn toward the Light
as does the rose.

Hubungannya? Filsafat -- atau, tulisan ilmiah -- mempertanyakan, sementara puisi sekadar mengungkapkan, tanpa pretensi.

Haidar